Kapan Hijrah ?

Kapan Hijrah ?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,   Ukhti, akhi, kapan hijrah ? Mungkin akhir-akhir ini, kalian sering mendengar kata ‘hijrah’ di timeline sosial media. Entah itu di Line maupun Instagram. Tapi, apakah kalian paham dengan apa yang dimaksud hijrah ? Pada artikel kali ini, kita akan membahas hijrah. Yuk kita simak ! Apa itu Hijrah ? Hijrah secara bahasa artinya meninggalkan, berpisah, atau menjauhi sesuatu. Seperti dalam firman Allah Ta’ala : فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ ۘ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ Artinya : Maka, Lut membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya, aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-‘Ankabut : 26). Hijrah dibagi menjadi dua maksud yaitu : Hijrah hissi, yaitu berpindah tempat. Berpindah dari negeri kafir atau negeri yang banyak fitnah ke negeri Islam atau ke negeri yang tidak banyak fitnah. Hijrah maknawi, atau hijrah dengan hati. Yaitu berpindah dari maksiat menuju ketaatan. Setiap manusia mesti berhijrah, menjadi pribadi yang lebih baik (taat) daripada sebelumnya. Kita tidak boleh melupakan tujuan kita diciptakan. Yaitu untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala : وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56). Allah tidak menciptakan manusia dengan main-main dan sia-sia. Ada perintah-Nya yang harus kita lakukan, dan larangan-Nya yang harus kita jauhi. Allah Ta’ala berfirman : أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun : 115). Sesuai dengan firman Allah di Surat...
Keutamaan Puasa Ramadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan

Alhamdulillah, kita sudah memasuki Bulan Ramadhan. Di dalam artikel sebelumnya, kita sudah membahas Keutamaan Bulan Ramadhan. Nah, dalam artikel kali ini, kita akan membahas mengenai Keutamaan Puasa Ramadhan. Di dalam Al-Qur’an, banyak ayat-ayat yang tegas dan jelas yang memberikan anjuran untuk melaksanakan puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah ta’ala telah menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti dalam firman-Nya :   إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Keutamaan Puasa Ramadhan adalah : 1. Puasa Merupakan Perisai Bagi Seorang Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: يا معشر الشباب من اسطاع منكم الباءة فاليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء “Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka pada hadits ini Rasulullah memerintahkan bagi orang yang telah kuat syahwatnya akan tetapi belum mampu untuk menikah maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa...
Keutamaan Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua umat muslim di dunia. Sudah selayaknya bagi kita, umat muslim, untuk mempersiapkan diri dan ilmu untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Berhubungan dengan akan datangnya bulan Ramadhan, kali ini kita akan membahas mengenai keutamaan bulan Ramadhan. Berikuta merupakan keutamaan bulan Ramadhan dibanding dengan bulan-bulan yang lain. Ramadhan, Bulan Diturunkannya Al Qur’an Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mulia. Karena di bulan ini kita sebagai umat muslim melaksanakan ibadah puasa. Di bulan ini juga Al Qur’an diturunkan. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 : شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” ( QS. Al Baqarah: 185 ) Ibnu Katsir rahimahhulah menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.” ( Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2/179 ) Setan Dibelenggu, Pintu Neraka Ditutup, dan Pintu Surga Dibuka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam haditsnya, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ...
Hukum April Mop Dalam Islam

Hukum April Mop Dalam Islam

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Karena hari ini bertepatan dengan tanggal 1 April, maka kita akan membahas mengenai suatu perayaan yang berkaitan dengan tanggal 1 April, yaitu April Mop dan bagaimana hukum April Mop dalam Islam. Apa Itu April Mop April Mop, atau dikenal juga dengan sebutan April Fools’ Day, dirayakan setiap tanggal 1 April tiap tahun. Di hari ini, orang-orang bisa berbohong, menipu, dan mengerjai orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai saat orang-orang yang berbondong-bondong untuk mengerjai teman, tetangga, atau bahkan anggota keluarganya. April Mop di Indonesia Seperti yang kita tahu, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim. Namun, tetap saja budaya April Mop tetap menjadi hiburan yang menyenangnkan bagi masyarakat Indonesia, terutama para remajanya. Mereka merayakannya dengan membohongi teman-teman mereka. Padahal, merayakan April Mop bukan merupakan budaya yang berasal dari Islam. Identik Dengan Bohong dan Dusta April Mop sangat identik dengan berbohong dan berdusta. Dan saat perayaannya, mereka seperti menghalalkan perbuatan bohong atau dusta itu. Sebagai seorang muslim, seharusnya kita tahu bahwa berbohong atau berdusta walaupun bercanda itu diharamkan di dalam Islam. Mungkin banyak orang yang sudah tahu akan hal itu, namun mereka seperti tidak mau tahu. Dan tidak mau mencari tahu. Hadits Yang Berhubungan Dengan Dusta Rasulullah sendiri sangat membenci perbuataan bohong atau dusta. Rasulullah banyak menyinggung hal ini di dalam hadits-hadits beliau. Di antaranya : Dari Abu Hurairah, ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ  مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ. قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ  أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam...
Hukum Valentine Dalam Islam

Hukum Valentine Dalam Islam

Seperti yang kita tau, tanggal 14 Februari ‘dinobatkan’ menjadi hari kasih sayang, atau lebih dikenal dengan ‘Valentine’s Day’. Tapi, apakah kita sebagai seorang Muslim harus ikut merayakannya ? Jawabannya adalah tidak. Kenapa ? It’s so obvious. Udah jelas. Karena tidak ada tuntutannya di dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Dalam artikel kali ini, akan dijelaskan mengapa kita sebagai seorang Muslim tidak perlu ikut merayakan Valentine’s Day. Bagaimana hukum valentine dalam Islam ? Berikut akan dijelaskan mengenai sejarah dan hukum valentine dalam Islam. Sejarah Hari Valentine Ada banyak versi tentang sejarah hari valentine, namun pada umumnya kebanyakan orang mengetahui bahwa cikal bakan hari valentine berawal dari perayaan Bangsa Romawi yang disebut sebagai ‘Lupercalia Day’. Perayaan ini diperingati setiap tanggal 13-15 Februari, untuk mencegah roh-roh jahat dan mendatangkan kesehatan serta kesuburan. Dua hari pertama dipersembahkan untuk dewi cinta dan kesuburan, Juno Februata. Pada hari ini para pemuda mengundi nama-nama gadis yang ada di dalam kotak. Para pemuda tersebut mengambil nama secara acak, dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangan pemuda tersebut selama setahun untuk bersenang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Lalu tanggal 15 Februari, mereka meminta perlindungan pada Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara berlangsung, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang (kulit kambing), dan wanita-wanita berebut untuk dilecut, karena mereka menganggap itu akan membuat mereka jadi lebih subur. Ketika Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi...
Temanmu Adalah Cerminan Dirimu

Temanmu Adalah Cerminan Dirimu

Kalian mau tau nggak kayak gimana cerminan diri kalian. Gampang sebenernya. Karena, temanmu adalah cerminan dirimu. Tinggal liat siapa aja teman yang sering bergaul denganmu, ya kira-kira begitulah cerminan dirimu. Fakta ini sesuai dengan apa yang dikatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda : الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ Artinya : “Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin.” (HR al-Bukhâri (al-Adabul -Mufrad no. 239) dan Abu Dâwud no. 4918 (ash-Shahîhah no. 926) Kalo ada orang suka dugem, ngumpulnya juga sama orang yang hobi dugem. Begitu juga sebaliknya. Kalo kalian suka ikut majelis ta’lim, ngumpulnya pasti juga sama orang yang hobi ikutan majelis ta’lim. Allah Azza Wa Jalla itu menciptakan ruh dan menciptakan sifat-sifat khusus buat ruh-ruh tersebut. Di antara sifat ruh itu adalah mereka nggak mau berkumpul dan bergaul dengan selain jenisnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal itu dengan bersabda : الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ Artinya : “Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). (Oleh karena itu), jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berbeda (berpisah).” (HR al-Bukhâri no. 3336 dan Muslim no. 6708) Memilih teman itu penting. Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk nggak salah memilih teman bergaul. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ Artinya : “Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” (HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927) Udah dipastikan, jika teman itu memiliki pengaruh yang sangat besar. Teman bisa mempengaruhi...
Tanya Jawab Tentang Al-Qur’an

Tanya Jawab Tentang Al-Qur’an

Tanya Jawab Tentang Al-Qur’an S : Berapa jumlah Surah dalam al-Quran ? J : 114 Surah S : Berapa jumlah Juz dalam al-Quran ? J : 30 Juz S : Berapa jumlah Hizb dalam al-Quran ? J : 60 Hizb S : Berapa jumlah Ayat dalam al-Quran ? J : 6236 Ayat S : Berapa jumlah kata dalam al-Quran dan berapa jumlah hurufnya ? J : 77437 kata, atau 77439 kata dan 320670 huruf S : Siapa Malaikat yang disebut dalam al-Quran? J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazhah, Hamalatul-Arsy, dll. S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran ? J : 14 Sajdah S : Berapa Jumlah para Nabi yang disebut dlm Al-Quran ? J : 25 Nabi S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dalam al-Quran ? Sebutkan ! J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa” al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra’d, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum’ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr. S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dalam al-Quran ? Sebutkan ! J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas. S : Berapa Jumlah Surah yang dimulai dengan huruf dalam al-Quran ? J : 29 Surah. S : Apakah yang dimaksud dengan Surah Makiyyah ? Sebutkan 10 saja ? J : Surah Makiyyah adalah Surah yang diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti: al-An’am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra’, al-Naml, al-Waqi’ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq. S : Apakah yang dimaksud dengan Surah Madaniyyah ? Sebutkan lima saja ? J : Surah Madaniyah adalah Surah yang diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti: al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj. S...
Tidakkah Kau Merasa Iri ?

Tidakkah Kau Merasa Iri ?

Seorang temannya bertanya : ” Tidakkah kau merasa iri ? ” Terhadap Fulaanah yang cantik dan seksi ? Terhadap Fulaanah, wanita karir yang menjadi buah bibir para pria ? Terhadap adikmu yang mendahuluimu menikah karena kecantikannya dan pakaiannya yang modis ? Terhadap putri tetanggamu yang cerdik dan supel ? Terhadap temanmu sewaktu kecil yang kini sudah mempunyai putra dan putri, dia hidup bahagia bersama suaminya bagai Raja dan Ratu ? Jawablah… Apakah kau tidak iri terhadap mereka semua ? Dengn disertai senyum manis, dia mulai menjawab, Air matanya mulai berjatuhan, “Ya, aku iri…. Aku sangat iri…. Terhadap Fulaanah yang telah hafal Al-Qur’an sebelumku…. Terhadap Fulaanah yang setiap hari bangun malam untuk shalat Tahajjud…. Terhadap Fulaanah yang telah menjadi pengajar Al-Qur’an…. Terhadap Fulaanah yang sebentar lagi akan tamat menghafal kitab Shahih Bukhari…. Terhadap Fulaanah yang telah ber’umrah dan berhaji, dan sekarang telah menjadi Da’iyah…. Terhadap Fulaanah yang menunda nikah karena merawat ibunya yang tua renta serta mengurus adik-adiknya yang telah menjadi yatim, aku iri pada kebaikannya…. Aku iri terhadap setiap muslimah – yang aku tidak mengenalnya – yang telah mendahuluiku mencari jalan menuju Surga…. Aku iri terhadap setiap penghafal Al-Qur’an…. Aku iri terhadap setiap Da’iyah…. Untuk apa aku berlari mengejar puing-puing dunia yang akan segera sirna…… Sedangkan Ulama Salaf telah berkata : Siapa yang bersaing denganmu dalam urusan Agama, maka saingilah dia…. Siapa yang bersaing denganmu dalam urusan Dunia, maka lemparkanlah dunia itu ke lehernya.”   Diterjemahkan secara bebas oleh : Arfah Ummu Faynan sumber : Telegram Kilauan Cahaya Ilmu   Mengapa kita harus iri terhadap orang yang hanya mengejar dunia namun lalai dalam urusan akhirat ? Kita hanya diperbolehkan iri...
Hukum Ulang Tahun Dalam Islam

Hukum Ulang Tahun Dalam Islam

Kali ini, kita akan membahas mengenai ulang tahun dan bagaimana hukum ulang tahun dalam Islam. Mengucapkan “happy birthday”, “hbd”, “happy milad”, “baarakallahu fii ‘umrik”, dan lainnya udah jadi kebiasaan banyak orang, dan mereka berpikir kalo itu gak menyalahi aqidah. Mungkin mereka bakal bilang “Apa salahnya sih ngucapin happy birthday ? Kan yang gak boleh itu niup lilin dan merakayan ulang taun ?” Sebenernya, inti permasalahannya itu bukan pada ucapan “happy birthday” itu. Tapi, intinya itu adalah LARANGAN ‘TASYABBUH’ atau menyerupai orang kafir. Hal inilah yang berkaitan dengan aqidah. Karena mengucapkan “happy birthday” hanyalah salah satu bentuk atau praktek dari tasyabbuh. Allah ta’ala berfirman : وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ Barangsiapa di antara kalian berloyalitas kepada mereka (orang-orang kafir) maka dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim”. (Al Maidah: 51). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. Ayat dan hadits di atas menunjukkan larangan tasyabbuh ( menyerupai orang kafir ). Kita tidak bisa seenaknya menafsirkan ayat dan hadits seenak kita, atau seenak ‘ulama’ yang cuma mau enaknya saja. Kita harus merujuk pada pemahaman salafus shalih, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Serta para ulama sekarang yang tetap berpegang teguh dengan metode pendahulunya tersebut. Apa sih yang menjadi batasan tasyabbuh yang dilarang ? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan : والتشبه بالكفار على قسمين : تشبه محرَّم ، وتشبه مباح . القسم الأول : التشبه المحرّم : وهو فعل ما هو من خصائص دين الكفار مع علمه بذلك ، ولم يرد في شرعنا .....
Sakit Itu……………

Sakit Itu……………

Sakit itu…”Zikrullah” Mereka yang menderitanya akan lebih sering menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya. Sakit itu… “Istighfar” Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk memohon ampun. Sakit itu… “Tauhid” Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar ? Sakit itu… “Muhasabah” Ketika sedang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal di akhirat nanti. Sakit itu… “Jihad” Kita ketika sakit tak boleh menyerah kalah, diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhan. Bahkan sakit itu “Ilmu” Bukankah ketika sakit, kita akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah sakit Sakit itu… “Nasihat” Yang sakit mengingatkan si sehat untuk menjaga diri. Yang sehat menghibur yang sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya. Sakit itu… “Silaturrahim” Saat menjenguk, bukankah keluarga yang jarang bertemu akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra ? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah. Sakit itu “Penggugur Dosa” Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya. Sakit itu… “Mustajab Do’a” Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta dido’akan oleh yang sakit. Sakit itu salah satu keadaan yang “Menyulitkan Syaitan” Diajak maksiat tak mampu dan tak mau. Dosa.. lalu malah disesali.. kemudian diampuni. Sakit itu membuat “Sedikit tertawa dan banyak menangis” Satu sikap ke-Insyaf-an yang disukai Nabi dan para makhluk langit. Sakit meningkatkan kualitas “Ibadah” Rukuk – Sujud lebih khusyuk, Tasbih – Istighfar lebih sering, Bermunajat – Do’a jadi lebih lama. Sakit itu memperbaiki “Akhlak”. Kesombongan terikikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan Tawadhu’....