Hukum Valentine Dalam Islam

Hukum Valentine Dalam Islam

Seperti yang kita tau, tanggal 14 Februari ‘dinobatkan’ menjadi hari kasih sayang, atau lebih dikenal dengan ‘Valentine’s Day’. Tapi, apakah kita sebagai seorang Muslim harus ikut merayakannya ? Jawabannya adalah tidak. Kenapa ? It’s so obvious. Udah jelas. Karena tidak ada tuntutannya di dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Dalam artikel kali ini, akan dijelaskan mengapa kita sebagai seorang Muslim tidak perlu ikut merayakan Valentine’s Day. Bagaimana hukum valentine dalam Islam ? Berikut akan dijelaskan mengenai sejarah dan hukum valentine dalam Islam. Sejarah Hari Valentine Ada banyak versi tentang sejarah hari valentine, namun pada umumnya kebanyakan orang mengetahui bahwa cikal bakan hari valentine berawal dari perayaan Bangsa Romawi yang disebut sebagai ‘Lupercalia Day’. Perayaan ini diperingati setiap tanggal 13-15 Februari, untuk mencegah roh-roh jahat dan mendatangkan kesehatan serta kesuburan. Dua hari pertama dipersembahkan untuk dewi cinta dan kesuburan, Juno Februata. Pada hari ini para pemuda mengundi nama-nama gadis yang ada di dalam kotak. Para pemuda tersebut mengambil nama secara acak, dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangan pemuda tersebut selama setahun untuk bersenang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Lalu tanggal 15 Februari, mereka meminta perlindungan pada Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara berlangsung, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang (kulit kambing), dan wanita-wanita berebut untuk dilecut, karena mereka menganggap itu akan membuat mereka jadi lebih subur. Ketika Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi...
Temanmu Adalah Cerminan Dirimu

Temanmu Adalah Cerminan Dirimu

Kalian mau tau nggak kayak gimana cerminan diri kalian. Gampang sebenernya. Karena, temanmu adalah cerminan dirimu. Tinggal liat siapa aja teman yang sering bergaul denganmu, ya kira-kira begitulah cerminan dirimu. Fakta ini sesuai dengan apa yang dikatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda : الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ Artinya : “Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin.” (HR al-Bukhâri (al-Adabul -Mufrad no. 239) dan Abu Dâwud no. 4918 (ash-Shahîhah no. 926) Kalo ada orang suka dugem, ngumpulnya juga sama orang yang hobi dugem. Begitu juga sebaliknya. Kalo kalian suka ikut majelis ta’lim, ngumpulnya pasti juga sama orang yang hobi ikutan majelis ta’lim. Allah Azza Wa Jalla itu menciptakan ruh dan menciptakan sifat-sifat khusus buat ruh-ruh tersebut. Di antara sifat ruh itu adalah mereka nggak mau berkumpul dan bergaul dengan selain jenisnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal itu dengan bersabda : الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ Artinya : “Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). (Oleh karena itu), jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berbeda (berpisah).” (HR al-Bukhâri no. 3336 dan Muslim no. 6708) Memilih teman itu penting. Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk nggak salah memilih teman bergaul. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ Artinya : “Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” (HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927) Udah dipastikan, jika teman itu memiliki pengaruh yang sangat besar. Teman bisa mempengaruhi...