Tanya Jawab Tentang Al-Qur’an

Tanya Jawab Tentang Al-Qur’an

Tanya Jawab Tentang Al-Qur’an S : Berapa jumlah Surah dalam al-Quran ? J : 114 Surah S : Berapa jumlah Juz dalam al-Quran ? J : 30 Juz S : Berapa jumlah Hizb dalam al-Quran ? J : 60 Hizb S : Berapa jumlah Ayat dalam al-Quran ? J : 6236 Ayat S : Berapa jumlah kata dalam al-Quran dan berapa jumlah hurufnya ? J : 77437 kata, atau 77439 kata dan 320670 huruf S : Siapa Malaikat yang disebut dalam al-Quran? J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazhah, Hamalatul-Arsy, dll. S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran ? J : 14 Sajdah S : Berapa Jumlah para Nabi yang disebut dlm Al-Quran ? J : 25 Nabi S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dalam al-Quran ? Sebutkan ! J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa” al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra’d, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum’ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr. S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dalam al-Quran ? Sebutkan ! J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas. S : Berapa Jumlah Surah yang dimulai dengan huruf dalam al-Quran ? J : 29 Surah. S : Apakah yang dimaksud dengan Surah Makiyyah ? Sebutkan 10 saja ? J : Surah Makiyyah adalah Surah yang diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti: al-An’am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra’, al-Naml, al-Waqi’ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq. S : Apakah yang dimaksud dengan Surah Madaniyyah ? Sebutkan lima saja ? J : Surah Madaniyah adalah Surah yang diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti: al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj. S...
Tidakkah Kau Merasa Iri ?

Tidakkah Kau Merasa Iri ?

Seorang temannya bertanya : ” Tidakkah kau merasa iri ? ” Terhadap Fulaanah yang cantik dan seksi ? Terhadap Fulaanah, wanita karir yang menjadi buah bibir para pria ? Terhadap adikmu yang mendahuluimu menikah karena kecantikannya dan pakaiannya yang modis ? Terhadap putri tetanggamu yang cerdik dan supel ? Terhadap temanmu sewaktu kecil yang kini sudah mempunyai putra dan putri, dia hidup bahagia bersama suaminya bagai Raja dan Ratu ? Jawablah… Apakah kau tidak iri terhadap mereka semua ? Dengn disertai senyum manis, dia mulai menjawab, Air matanya mulai berjatuhan, “Ya, aku iri…. Aku sangat iri…. Terhadap Fulaanah yang telah hafal Al-Qur’an sebelumku…. Terhadap Fulaanah yang setiap hari bangun malam untuk shalat Tahajjud…. Terhadap Fulaanah yang telah menjadi pengajar Al-Qur’an…. Terhadap Fulaanah yang sebentar lagi akan tamat menghafal kitab Shahih Bukhari…. Terhadap Fulaanah yang telah ber’umrah dan berhaji, dan sekarang telah menjadi Da’iyah…. Terhadap Fulaanah yang menunda nikah karena merawat ibunya yang tua renta serta mengurus adik-adiknya yang telah menjadi yatim, aku iri pada kebaikannya…. Aku iri terhadap setiap muslimah – yang aku tidak mengenalnya – yang telah mendahuluiku mencari jalan menuju Surga…. Aku iri terhadap setiap penghafal Al-Qur’an…. Aku iri terhadap setiap Da’iyah…. Untuk apa aku berlari mengejar puing-puing dunia yang akan segera sirna…… Sedangkan Ulama Salaf telah berkata : Siapa yang bersaing denganmu dalam urusan Agama, maka saingilah dia…. Siapa yang bersaing denganmu dalam urusan Dunia, maka lemparkanlah dunia itu ke lehernya.”   Diterjemahkan secara bebas oleh : Arfah Ummu Faynan sumber : Telegram Kilauan Cahaya Ilmu   Mengapa kita harus iri terhadap orang yang hanya mengejar dunia namun lalai dalam urusan akhirat ? Kita hanya diperbolehkan iri...
Hukum Ulang Tahun Dalam Islam

Hukum Ulang Tahun Dalam Islam

Kali ini, kita akan membahas mengenai ulang tahun dan bagaimana hukum ulang tahun dalam Islam. Mengucapkan “happy birthday”, “hbd”, “happy milad”, “baarakallahu fii ‘umrik”, dan lainnya udah jadi kebiasaan banyak orang, dan mereka berpikir kalo itu gak menyalahi aqidah. Mungkin mereka bakal bilang “Apa salahnya sih ngucapin happy birthday ? Kan yang gak boleh itu niup lilin dan merakayan ulang taun ?” Sebenernya, inti permasalahannya itu bukan pada ucapan “happy birthday” itu. Tapi, intinya itu adalah LARANGAN ‘TASYABBUH’ atau menyerupai orang kafir. Hal inilah yang berkaitan dengan aqidah. Karena mengucapkan “happy birthday” hanyalah salah satu bentuk atau praktek dari tasyabbuh. Allah ta’ala berfirman : وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ Barangsiapa di antara kalian berloyalitas kepada mereka (orang-orang kafir) maka dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim”. (Al Maidah: 51). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. Ayat dan hadits di atas menunjukkan larangan tasyabbuh ( menyerupai orang kafir ). Kita tidak bisa seenaknya menafsirkan ayat dan hadits seenak kita, atau seenak ‘ulama’ yang cuma mau enaknya saja. Kita harus merujuk pada pemahaman salafus shalih, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Serta para ulama sekarang yang tetap berpegang teguh dengan metode pendahulunya tersebut. Apa sih yang menjadi batasan tasyabbuh yang dilarang ? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan : والتشبه بالكفار على قسمين : تشبه محرَّم ، وتشبه مباح . القسم الأول : التشبه المحرّم : وهو فعل ما هو من خصائص دين الكفار مع علمه بذلك ، ولم يرد في شرعنا .....
Sakit Itu……………

Sakit Itu……………

Sakit itu…”Zikrullah” Mereka yang menderitanya akan lebih sering menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya. Sakit itu… “Istighfar” Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk memohon ampun. Sakit itu… “Tauhid” Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar ? Sakit itu… “Muhasabah” Ketika sedang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal di akhirat nanti. Sakit itu… “Jihad” Kita ketika sakit tak boleh menyerah kalah, diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhan. Bahkan sakit itu “Ilmu” Bukankah ketika sakit, kita akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah sakit Sakit itu… “Nasihat” Yang sakit mengingatkan si sehat untuk menjaga diri. Yang sehat menghibur yang sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya. Sakit itu… “Silaturrahim” Saat menjenguk, bukankah keluarga yang jarang bertemu akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra ? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah. Sakit itu “Penggugur Dosa” Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya. Sakit itu… “Mustajab Do’a” Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta dido’akan oleh yang sakit. Sakit itu salah satu keadaan yang “Menyulitkan Syaitan” Diajak maksiat tak mampu dan tak mau. Dosa.. lalu malah disesali.. kemudian diampuni. Sakit itu membuat “Sedikit tertawa dan banyak menangis” Satu sikap ke-Insyaf-an yang disukai Nabi dan para makhluk langit. Sakit meningkatkan kualitas “Ibadah” Rukuk – Sujud lebih khusyuk, Tasbih – Istighfar lebih sering, Bermunajat – Do’a jadi lebih lama. Sakit itu memperbaiki “Akhlak”. Kesombongan terikikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan Tawadhu’....
Semua Akan Ada Gantinya

Semua Akan Ada Gantinya

SEMUA AKAN ADA GANTINYA. INSYAALLAH.. Puncak kemerdekaan seorang hamba adalah adalah saat ia mampu menahan diri dari apa yang diharamkan Allah, padahal jiwanya amat mencintai hal itu, namun ia meninggalkannya karena Allah semata, Allah berfirman: أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ “Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertaqwa, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS: Al Hujurat ayat: 3) Sahabat… Tak perlu gusar bila harus kehilangan sesuatu di jalan Allah… Karena ada ganti untuk setiap yang engkau tinggalkan karena-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: من ترك شئ لله عوضه الله خير منه “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari apa yang ditinggalkannya” (HR. Ahmad) Qatadah -rahimahullah- mengatakan: لا يقْدِرُ رَجلٌ على حَرَامٍ ثم يَدَعه ليس به إلا مخافة الله عز وجل إلا أبْدَله في عاجل الدنيا قبل الآخرة ما هو خيرٌ له من ذلك “Tidaklah seorang laki-laki yang mampu melakukan perbuatan yang haram, kemudian dia meninggalkannya, dimana dia tidak meninggalkannya kecuali karena takut kepada Allah azza wa jalla, maka Allah akan mengganti apa yang ditinggalkannya tersebut dengan sesuatu yang lebih baik pada kehidupan dunia sebelum kehidupan akhirat.” Iya. .. Semua ada gantinya. .. sumber : Ustadz Aan Chandra...
Menyandarkan Nikmat Kepada Allah Ta’ala

Menyandarkan Nikmat Kepada Allah Ta’ala

MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLAH TA’ALA السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allāh. Allāh berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ “Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allāh.” ( QS An-Nahl: 53 ) Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allāh kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allāh. Seperti mengatakan: Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab. Allāh berfirman: يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا “Mereka mengenal nikmat Allāh kemudian mereka mengingkarinya.” ( QS An Nahl : 83 ) Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allāh, Zat yang menciptakan sebab, seperti dengan mengatakan: Kalau bukan karena Allāh niscaya kita sudah celaka; Kalau bukan Allāh niscaya uang kita sudah hilang; Kalau bukan karena Allāh niscaya saya tidak akan sembuh. Karena apa? Karena Allāh-lah yang memberikan:  Nikmat keselamatan  Nikmat keamanan  Nikmat kesembuhan Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita. Kalau Allāh menghendaki niscaya Allāh tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita. Ini semua, bukan berarti seorang muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain. Seorang muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab kenikmatan ini. Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan doa yang baik. Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allāh semata. والله تعالى أعلم Itulah yang bisa...