Semua Akan Ada Gantinya

Semua Akan Ada Gantinya

SEMUA AKAN ADA GANTINYA. INSYAALLAH.. Puncak kemerdekaan seorang hamba adalah adalah saat ia mampu menahan diri dari apa yang diharamkan Allah, padahal jiwanya amat mencintai hal itu, namun ia meninggalkannya karena Allah semata, Allah berfirman: أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ “Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertaqwa, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS: Al Hujurat ayat: 3) Sahabat… Tak perlu gusar bila harus kehilangan sesuatu di jalan Allah… Karena ada ganti untuk setiap yang engkau tinggalkan karena-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: من ترك شئ لله عوضه الله خير منه “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari apa yang ditinggalkannya” (HR. Ahmad) Qatadah -rahimahullah- mengatakan: لا يقْدِرُ رَجلٌ على حَرَامٍ ثم يَدَعه ليس به إلا مخافة الله عز وجل إلا أبْدَله في عاجل الدنيا قبل الآخرة ما هو خيرٌ له من ذلك “Tidaklah seorang laki-laki yang mampu melakukan perbuatan yang haram, kemudian dia meninggalkannya, dimana dia tidak meninggalkannya kecuali karena takut kepada Allah azza wa jalla, maka Allah akan mengganti apa yang ditinggalkannya tersebut dengan sesuatu yang lebih baik pada kehidupan dunia sebelum kehidupan akhirat.” Iya. .. Semua ada gantinya. .. sumber : Ustadz Aan Chandra...
Menyandarkan Nikmat Kepada Allah Ta’ala

Menyandarkan Nikmat Kepada Allah Ta’ala

MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLAH TA’ALA السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allāh. Allāh berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ “Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allāh.” ( QS An-Nahl: 53 ) Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allāh kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allāh. Seperti mengatakan: Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab. Allāh berfirman: يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا “Mereka mengenal nikmat Allāh kemudian mereka mengingkarinya.” ( QS An Nahl : 83 ) Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allāh, Zat yang menciptakan sebab, seperti dengan mengatakan: Kalau bukan karena Allāh niscaya kita sudah celaka; Kalau bukan Allāh niscaya uang kita sudah hilang; Kalau bukan karena Allāh niscaya saya tidak akan sembuh. Karena apa? Karena Allāh-lah yang memberikan:  Nikmat keselamatan  Nikmat keamanan  Nikmat kesembuhan Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita. Kalau Allāh menghendaki niscaya Allāh tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita. Ini semua, bukan berarti seorang muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain. Seorang muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab kenikmatan ini. Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan doa yang baik. Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allāh semata. والله تعالى أعلم Itulah yang bisa...
Sakitnya Seorang Muslim

Sakitnya Seorang Muslim

Berhubung 2 minggu terakhir ini aku lagi sakit belum sembuh sampe sekarang, jadi share ilmunya tentang sakit di dalam ajaran Islam aja ya. Banyak kan kalo yang lagi sakit itu ngeluh ? Ngeluh ini lah, itu lah. Jujur, aku kadang juga gitu. Bukan kadang sih, tapi sering. Tapi setelah aku tau tentang sakit dalam ajaran Islam, aku jadi lebih sabar kalo lagi sakit. Kenapa ? Karena aku sadar kita itu lebih sering sehat daripada sakit. Pas sehat aja lupa sama Allah. Eh pas sakit baru inget. Bener gak ? Dan sebenernya, ada banyak faedah waktu kita lagi sakit. Nah ini beberapa faedah dari sakitnya seorang muslim : Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar Sakit akan menghapuskan dosa Sakit akan membawa keselamatan dari api neraka Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya Banyak hikmah yang dapat diambil   Allah ta’ala berfirman “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” (HR. Muslim)   Kalo mau tau lebih banyak tentang sakit dalam Islam, atau mau tau tentang dalil dan hadits nya, baca aja di : Rahasia di Balik Sakit Dan Jika Aku Sakit, Dialah yang Menyembuhkanku Dikala Sakit Sumber...
Fitnah Dunia

Fitnah Dunia

Kali ini, kita akan membahas tentang fitnah dunia. Kita semua tau kalo kehidupan di dunia ini cuma sementara. Kehidupan yang kekal cuma nanti di akhirat. Tapi, kenapa sampai sekarang masih sibuk mengejar kebahagiaan duniawi ? Bukannya menambah bekal untuk di akhirat nanti. Ya itulah fitnah dunia, sangat menggoda. Setan juga gak bakal berhenti menjerumuskan kita biar kita sibuk sama urusan dunia, sampai lupa sama urusan akhirat. Padahal, kalo yang kita cari itu kebahagiaan akhirat, otomatis kita juga dapet kebahagiaan dunia. Tapi kenapa kita tetep nyari kebahagiaan duniawi ? Padahal kita semua tau kalo itu nanti bakal sirna. Udah banyak faktanya, kalo orang-orang yang punya banyak harta malah tidak bahagia. Namun, orang yang biasa-biasa saja atau bahkan yang tidak punya apa-apa malah bahagia. Kenapa ? Karena mereka tidak terpaku pada urusan duniawi mereka. Mereka hanya fokus dengan urusan akhirat. Memperbaiki hubungan mereka dengan Sang Pencipta, mendalami ilmu agama, serta berusaha memperbaiki aqidah, ibadah, dan akhlak mereka. Mereka tau kehidupan di dunia ini hanya sementara, dan ada kehidupan kekal yang menunggu mereka, yaitu kehidupan akhirat. Kalo mau tau lebih banyak tentang fitnah dunia, tentang dalil dan hadistnya, baca aja di : Fitnah Dunia Yang...
Lingkunganmu Menentukan Pola Pikirmu

Lingkunganmu Menentukan Pola Pikirmu

Nah, kali ini, kita bahal ngebahas tentang “Lingkunganmu Menentukan Pola Pikirmu” Jaman sekarang itu, banyak anak-anak muda yang (ngakunya) gaul. Gaul darimana ? Diliat dari fashion kalian ? Dari fisik kalian ? God. Please. Percuma kalo kalian punya selera fashion bagus, baju-baju branded, muka yang (katanya) good looking, tapi kelakuan sama otak kalian itu minus. Oh, dan percuma juga kalo mindset kalian udah tercemar *oops*. Tau gak mindset itu apa ? Mindset itu artinya pola pikir. And you know what guys ? Lingkungan itu juga berpengaruh sama mindset kalian. Pengaruhnya besar malah. Kalo jaman kita sekarang sih pengaruhnya dari tv sama internet, soalnya gampang diakses. Gini ya gini. Cara berpikir dan bertindak kalian itu tergantung sama apa yang kalian baca, liat, dan dengar. Ngerti gak maksudnya ? Jadi ya, kalo misalnya kalian suka liat drama gitu, secara gak langsung itu bakal bawa pengaruh di hidupmu. Karena apa ? Alam bawah sadar kalian ngerekam apa yang kalian liat itu. Jadi kalo kalian suka nonton drama, lama-kelamaan your life will be full of drama guys karena kalian keseringan liat drama. Eh gapapa sih. Ntar biar kalian dapet title Drama King or Drama Queen. Haha. Ya boleh-boleh aja sih nonton film drama, fantasy, horror, thriller, romance, or yang lain. Tapi inget, jangan sampe itu semua ngerubah cara berpikir sama bertindakmu. Soalnya secara gak sadar kalian juga bakalan kebawa suasana gitu dan baper juga haha. Ini maksudnya cuma mau share aja guys. Dari pengalaman. Aku juga dulu gitu. Eh. Sampe sekarang sih. Cuma aku udah bisa ngatasinnya. Walaupun kadang masih rada baper dikit lah. Emang butuh proses, tapi harus ada progress juga ya....
Sepucuk Surat Untuk Sahabat

Sepucuk Surat Untuk Sahabat

Sepucuk surat untuk sahabat, Seorang sahabat pernah mengirimkan sebuah pesan yang penuh makna. Isi pesan itu adalah: “Sahabat, dengarkanlah sejenak.. Diriwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala .. “Yaa Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia, shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,” Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”) Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mukminmu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat.” Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis, “Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta’ala tentang aku, “Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu.” Sahabatku.. Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu Tentang Allah ta’ala ..Agar aku dapat bersamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya.. Aku memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk, patuh & Taat kepada Syariat-Mu.. Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu.. Amiin… Sumber : somewhere i...
Salafus Shalih

Salafus Shalih

Ada yang pernah denger apa itu Salafus Shalih ? Kalo secara etimologi (bahasa), Salafus Shalih itu artinya orang-orang terdahulu Kalo secara terminologi (istilah), Salafus Shalih itu orang-orang terdahulu yang sholeh, mengikuti ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW Ada 3 generasi Salafus Shalih yang patut kita contoh, yaitu : Generasi para sahabat (berinteraksi langsung dengan Rasul) Generasi Tabi’in (tidak berinteraksi dengan Rasul secara langsung, belajar dari para sahabat) Generasi Tabi’ut Tabi’in (belajar dari Tabi’in) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ» Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya.” (HR. Bukhari (2652), Muslim (2533)) Aku tau ini dari majelis ta’lim dan banyak referensi lain. Kalo mau tau lebih lengkap tentang dalil dan hadist mengenai Salafus Shalih, bisa baca di : Definisi Salaf ( almanhaj.or.id ) Salafus...
Hadits Palsu Seputar 1 Safar

Hadits Palsu Seputar 1 Safar

Sekarang marak beredar broadcast tentang Hadits Palsu Seputar 1 Safar. Entah broadcast dari bbm, line, whatsapp, sms, ataupun media sosial yang lainnya. Isi dari broadcast tersebut biasanya seperti ini : Rasullullah Bersabda “Barang Siapa Yang Memberitahukan Berita 1 Safar Kepada Yang Lain, Maka Haram Api Neraka Baginya”.   Dan tolong baca sebentar aja kita berdzikir mengingat اَللّهُ … “Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Sebarkan!, Anda  akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT  آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ Hadits yang di sebutkan di atas adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaukani di Al-Fawaid Al-Majmu’ah, hlm. 215. Maka Berhati-hatilah menyebarkan hadits palsu karena yang menyebarkannya akan mendapatkan dosa dusta dan menyebabkan masuk neraka sebagaimana dalam hadits yang shahih berikut ini : عَنْ الْمُغِيْرَةِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَذِباً عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ. “Dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Se-sungguhnya berdusta atas (nama)ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendak-lah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.” [HR. Al-Bukhari (no. 1291) dan Muslim (I/10), diri-wayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya’la (I/414 no. 962), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah dari Sa’id bin Zaid]   Cuma saling mengingatkan dalam...