Seorang temannya bertanya :

” Tidakkah kau merasa iri ? ”

  • Terhadap Fulaanah yang cantik dan seksi ?
  • Terhadap Fulaanah, wanita karir yang menjadi buah bibir para pria ?
  • Terhadap adikmu yang mendahuluimu menikah karena kecantikannya dan pakaiannya yang modis ?
  • Terhadap putri tetanggamu yang cerdik dan supel ?
  • Terhadap temanmu sewaktu kecil yang kini sudah mempunyai putra dan putri, dia hidup bahagia bersama suaminya bagai Raja dan Ratu ?

Jawablah…

Apakah kau tidak iri terhadap mereka semua ?
Dengn disertai senyum manis, dia mulai menjawab,

Air matanya mulai berjatuhan,

“Ya, aku iri….

Aku sangat iri….

  • Terhadap Fulaanah yang telah hafal Al-Qur’an sebelumku….
  • Terhadap Fulaanah yang setiap hari bangun malam untuk shalat Tahajjud….
  • Terhadap Fulaanah yang telah menjadi pengajar Al-Qur’an….
  • Terhadap Fulaanah yang sebentar lagi akan tamat menghafal kitab Shahih Bukhari….
  • Terhadap Fulaanah yang telah ber’umrah dan berhaji, dan sekarang telah menjadi Da’iyah….
  • Terhadap Fulaanah yang menunda nikah karena merawat ibunya yang tua renta serta mengurus adik-adiknya yang telah menjadi yatim, aku iri pada kebaikannya….
  • Aku iri terhadap setiap muslimah – yang aku tidak mengenalnya – yang telah mendahuluiku mencari jalan menuju Surga….
  • Aku iri terhadap setiap penghafal Al-Qur’an….
  • Aku iri terhadap setiap Da’iyah….

Untuk apa aku berlari mengejar puing-puing dunia yang akan segera sirna……

Sedangkan Ulama Salaf telah berkata :

  • Siapa yang bersaing denganmu dalam urusan Agama, maka saingilah dia….
  • Siapa yang bersaing denganmu dalam urusan Dunia, maka lemparkanlah dunia itu ke lehernya.”

 

Diterjemahkan secara bebas oleh : Arfah Ummu Faynan

sumber : Telegram Kilauan Cahaya Ilmu

 

Mengapa kita harus iri terhadap orang yang hanya mengejar dunia namun lalai dalam urusan akhirat ? Kita hanya diperbolehkan iri terhadap dua orang, yaitu :

  • Orang yang Allah anugerahkan padanya harta, lalu ia infakkan pada jalan kebaikan ; dan
  • Orang yang Allah beri karunia ilmu ( Al-Qur’an dan As-Sunnah ), lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya

Hal ini sesuai dengan dua hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” ( HR. Al-Bukhari ).

 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” ( HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816 )

 

 

sumber :

Orang Yang Pantas Dicemburui | muslim.or.id

Hanya Boleh Hasad Pada Dua Orang | rumaysho.com